Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus berupaya menekan angka
stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sidoarjo,
pada Agustus 2020 angkanya sempat mencapai sekitar 8,24 persen atau
6.207 anak, dari jumlah pengukuran atau penimbangan. Sedangkan di Bulan
Pebruari 2021, angka stunting ini turun menjadi 7,9 persen atau 5.239
anak dari 66.353 yang diperiksa. Meski terjadi penurunan prevalensi
stunting, namun upaya-upaya pencegahan stunting harus tetap digencarkan.
Mengambil peran dalam upaya pengentasan stunting, Yayasan
Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Muslimat NU
melanjutkan edukasi gizi dan pengumpulan fakta konsumsi susu kental
manis oleh masyarakat. di Sidoarjo, kegiatan dilakukan pada Sabtu (6/3)
di Ruang Pertemuan DPC Muslimat NU Kabupaten Sidoarjo.
Hadir
sebagai narasumber Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia
Soefihara, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dan Dr, dr. Wiwik
Winarningsih,MARS.
Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan
PP Muslimat NU mengatakan, PP Muslimat NU akan terus menyampaikan
edukasi mengenai gizi kepada masyarakat terutama kader-kader NU. Sebab,
pemahaman mengenai gizi berkaitan langsung dengan kesehatan anak dalam
keluarga.
“Mengenai stunting, yang pertama kali terganggu itu
adalah otak anak. Begitu anak lahir, otak anak Tidak berkembang
sebagaimana mestinya, ini adalah akibat ketidaktahuan ibu,” jelas Erna.
Lebih lanjut, Erna menegaskan agar anak dibatasi untuk membatasi konsumsi gula harian.
“Gula
adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker. Jadi sebaiknya
konsumsi makanan minuman tinggi gula ini sebaiknya dihindari. Makanya
penderita kanker sebaiknya membatasi konsumsi gula, apalagi susu kental
manis, ini sangat disukai oleh sel-sel kanker untuk tumbuh,” pungkas
Erna.
Dr. dr. Wiwik Winarningsih, MARS mengingatkan, edukasi
mengenai gizi dan susu kental manis seharusnya tidak hanya menyasar
ibu-ibu atau calon ibu. Melainkan, generasi sebelumnya seperti nenek,
mbah, eyang juga harus diedukasi.
“Justru yang kendala yang
sering dihadapi ibu-ibu saat ini adalah bagaimana memberi pengertian
kepada orang tuanya, bahwa pola-pola asupan gizi untuk anak sudah
berubah. Kapan waktu MPASi, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak tepat
untuk pengasuhan anak,” jelas Wiwik Winarningsih.
Lebih lanjut,
dr Wiwik mengakui bahwa konsumsi susu kental manis sebagai minuman untuk
anak masih lumrah dilakukan oleh masyarakat Sidoarjo.
“Memang
masih banyak anak-anak yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai
minuman susu, makanya ini sangat mengkhawatirkan. Saya juga sekaligus
apresiasi kepada YAICI dan kader PP Muslimat NU yang rutin memberikan
edukasi untuk masyarakat. Karena masih banyak yang tidak paham
sebenarnya,” jelas Wiwik Winarningsih.
Arif Hidayat, Ketua
Harian YAICI dalam kesempatan itu menjelaskan edukasi yang telah
dilakukan YAICI bersama PP Muslimat NU. Diantaranya adalah edukasi dan
sosialisasi melalui kader, edukasi langsung ke masyarakat, penelitian
hingga penggalian data langsung ke masyarakat yang mengkonsumsi susu
kental manis.
“Persoalan-persoalan yang kami temukan di
lapangan itu beragam. Ada yang orang tua memang tidak tahu mengenai
kandungan susu kental manis, atau bahkan ada yang sudah tahu tapi masih
memberikan susu kental manis untuk anaknya. Alasannya juga macam-macam,
ada yang karena lebih murah atau anaknya lebih suka,” jelas Arif.
Lebih
lanjut, PP Muslimat NU dan YAICI berkomitmen akan terus melaksanakan
edukasi tentang gizi dan cara yang tepat mengkonsumsi kental manis.
“Kita
tidak bisa hanya menunggu pemerintah dan produsen yang melakukan
sosialisasi. Saat ini kami didukung oleh mitra seperti PP Muslimat NU,
maka kita akan lanjutkan edukasi kepada masyarakat,” pungkas Arif
Hidayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar