![]() |
| dr Muhammad Miftahussurur MKes SpPD PhD |
Surabaya - Kondisi puasa
mewajibkan muslim menahan haus dan lapar dari pagi hari hingga
menjelang petang. Dengan waktu yang cukup lama tidak mendapatkan asupan
makanan, asam lambung dapat naik karena tidak ada makanan yang dapat
diproses oleh cairan tersebut.
dr Muhammad Miftahussurur MKes
SpPD PhD Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan
Informasi Unair menjelaskan, asam lambung kerap naik saat puasa yang
disebabkan perut dalam keadaan kosong. Hal tersebut dapat menimbulkan
perasaan sakit dan nyeri pada perut yang dapat mengganggu aktivitas
sehari-hari.
Lebih lanjut, dokter Miftah menjelaskan bahwa dalam
memilih makanan untuk berbuka ataupun sahur, umat muslim yang berpuasa
disarankan tetap memperhatikan 3J (jenis, jumlah dan jadwal).
“Saya
sangat sering menganjurkan kepada pasien untuk yakin bahwa dengan
berpuasa akan dapat mengurangi atau bahkan menyembuhkan keluhan gangguan
lambung. Asalkan dilaksanakan dengan sebenar-benarnya sesuai anjuran,”
ujar dokter Miftah, di Surabaya, Rabu (6/4/2022).
Agama Islam,
sambungnya, telah menuntun agar umatnya dapat berpuasa dengan baik dan
benar. Jadwal makan, tandasnya, dapat dicontohkan pada saat berbuka.
Dengan mendahulukan takjil sebagai makanan pembuka supaya tidak
memberikan tekanan berlebih pada lambung yang beristirahat setelah
sekian jam. Kemudian diikuti dengan makan besar yang tidak terlalu
kenyang dan ditutup dengan sahur.
“Kebiasaan-kebiasaan seperti
itu yang sering menjadi permasalahan. Tidak sahur, makan sebelum tidur
sehingga gangguan lambung menjadi kambuh,” jelas dokter Miftah.
Di
sisi lain, sambungnya, ada beberapa makanan tertentu yang dapat
mempengaruhi terhadap lambung. Misalnya makanan pedas dan kecut yang
dapat memberikan iritan secara langsung kepada lambung. Selain itu, susu
dan santan yang dapat memperlambat peristaltik usus untuk mengosongkan
makanan.
“Kita juga mengenal makanan yang dapat menghasilkan
banyak gas. Dalam istilah jawa dikenal dengan polo pendem seperti
kacang-kacangan, ketela dan sebagainya. Oleh karena itu komposisi
makanan saat berbuka atau sahur menjadi sangat penting di luar tentang
pentingnya kita mengkonsumsi sayur dan buah baik secara kuantitas dan
kualitas serta tentunya konsumsi air yang cukup,” ungkap dokter Miftah.
Untuk
serat, dokter Miftah menganjurkan agar dapat melakukan kunyahan yang
lebih banyak. Agama, tandasya, menganjurkan untuk mengunyah diatas 30
kali agar lambung tidak bekerja terlalu keras, terutama pada saat
berpuasa.
Pada akhir dokter Miftah menegaskan agar berpuasalah
sesuai dengan esensi yang telah dianjurkan oleh agama. “Atur pola makan,
hindari kondisi stres sehingga gangguan lambung saat berpuasa dapat
teratasi,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar